Lala seorang gadis yang manis dan periang, dia
sangat baik dan ramah kepada semua orang. Namun dibalik keriangannya itu,
hidupnya penuh dengan beban. Sejak kecil dia menderita penyakit jantung. Setiap
hari dia harus meminum obat, dia tidak pernah mengeluh dia tidak ingin
menunjukkan penderitaan yang dialaminya selama bertahun-tahun kepada orang
lain. Dokter memvonis Lala hanya bisa bertahan sampai umurnya 18 tahun, kecuali
jika dia mendapatkan donor jantung yang sesuai, maka nyawanya bisa
diselamatkan. Namun sayang, sekarang umur Lala sudah 17 tahun, tapi belum ada
donor jantung yang sesuai. Akhir-akhir ini Lala sering pingsan di kelas,
akhirnya keluarga Lala memutuskan untuk mengeluarkan Lala dari sekolah agar
Lala bisa beristirahat di rumah.
Sudah
hampir 2 bulan Lala di rumah, setiap hari dia hanya membaca buku di taman.
Sekedar menghilangkan kebosanan jika dia hanya terus istirahat di kamar dan
untuk menghirup udara segar.
“La…kalau
kamu bosan, kamu bisa mengundang temanmu untuk dating kerumah!” Ujar mama Lala.
“Lala
nggak bosan ko mah, Lala Cuma kesepian. Mama, Papah dan kak Ara, semuanya sibuk
di luar rumah.” Keluh Lala
“Maafin
mamah ya, La.” Sambil memeluk putrinya tersebut. Lala sadar kalau mamah sibuk
mencarikan donor buat dirinya. Padahal jika keluarganya itu mau menemaninya
sehari saja,itu sudah menjadi obat bagi dirinya.
Akhir-akhir
ini ada cowo yang slalu menyapanya setiap pagi. Lala gak kenal siapa cowo itu.
Jika dia tetangga, dia pasti kenal. Karna hampir orang satu kompleks dia hapal.
“Pagi
! Wah… buku yang dibaca sudah ganti lagi ya?” cowok itu menyandarkan dirinya ke
pagar rumah. Lala hanya trsenyum.
“Kamu
suka baca komik ya?”
Lala
hanya mengangguk.
“kamu
kok diem aja? Aku kan udah cape-cape nanya.”
“Habis
akku kan gak kenal sama kamu.” Balas Lala.
“Wah…!”
Cowok itu terlihat senang. “ Ternyata suara kamu bagus banget, pasti kamu cocok
deh kalau jadi koki,”
Mendengar
perkataan cowok itu Lala tersenyum.
“Lala, kamu ngomong sama siapa?” kak Ara muncul dari
dalam rumah, dia terkejut melihat seorang cowok di luar pagar rumahnya.
“Angga…!”
Teriak kak Ara.
Cowok itu langsung
melambaikan tangan dan tersenyum.
Ternyata cowok itu
bernama Angga, dia sahabat kuliah kak Ara. Dia sengaja nyari tempat kost di
dekat rumah Lala, supaya bisa ngejutin kak Ara. Lala terkejut karna Angga tahu
tentang penyakitnya.
“Sorry ya, selama ini
aku buat kamu takut.” Ungkap Angga. “Saat pertama liat kamu, aku belum tahu
kalau kamu adiknya Ara, sebab kamu tampak lebih dewasa. Yang saat itu tak
pernah aku lihat senyumnya.” Lanjut Angga.
Lala hanya terdiam, dia
tahu apa yang dikatakan Angga itu benar.
Sejak saat itu hampir
setiap hari Angga datang kerumah. Rumah Lala kini penuh dengan gelak tawa,
sebab Angga pandai sekali melucu. Bahkan Lala tertawa terbahak-bahak mendengar
kelucuan Angga.
Suatu pagi ketika Angga
datang, semua orang tidak ada dirumah, yang ada hanya Lala, dia duduk di bangku
taman seperti biasa.
“Boleh aku duduk?”
Tanya Angga.
“Silahkan! Kapan kamu
datang?” Tanya Lala.
“Baru saja. Rumah
sepi?”
“Seperti biasa semua
orang sibuk mencoba mencari orang yang mau mendonorkan jantung untukku.” Ungkap
Lala. “Padahal jantung orang lain pun sangat berharga bagi orang terebut.”
Lanjut Lala.
“Kamu punya impian?”
Tanya Angga tiba-tiba.
Lala mengernyitkan
dahi.
“Kurasa punya, jika
tidak, kamu tidak mungkin bertahan sampai saat ini.” Lala menatap wajah Angga,
ada sesuatu yang berdesir di hatinya saat dia memandang cowok itu.
“Impian? Apakah itu
bisa disebut impian?” ucap Lala lirih.
“Semua keinginan itu
bisa disebut impian. Ujar Angga.
Lala menghela nafas,
seperti ada beban berat di pundaknya.
“Duduk berdua di bangku
ini, memandang langit, bunga, kkupu-kupu dan bercanda, hingga detik terakhir
bersama orang yang ku cintai. Apakah bisa disebut impian?” lala menoleh kea rah
Angga. Angga mengangguk dan tersenyum.
“Lalu apa impianmu?”
lala balik bertanya.
“Sejak dulu aku ingin
sekali pergi ke sebuah tempat, dimana aku bisa jalan-jalan di pematang sawah,
memancing di sungai yang airnya jernih, pokoknya pergi ke suatu tempat yang
tenang gitu!” Angga menjelaskan dengan logatnya yang kocak. Membuat Lala
tersenyum simpul. Tiba-tiba pandangan mereka beradu, di hati Lala maupun Angga
berdesir sesuatu yang aneh. Lala menunduk, dia nggak sanggup terus menatap mata
Angga. Dia merasa tidak pantas untuk merasakan hal itu kepada Angga, yaitu rasa
cinta.
Sejak saaat itu, setiap
hari Angga selalu datang untuk menemani Lala. Dia datang selalu dengan membawa
hadiah sebuah boneka kecil, setiap hari bonekanya selalu berbeda. Lala terlihat
senang dengan hadiah tersebut, kini sudah ada 17 boneka yang ia punya.
“Lala, mungkin aku
besok tidak bisa menemanimu.” Ujar Angga.
“Kenapa?” hati Lala
sedikit kecewa mendengar hal itu. Karena Lala sudah mulai terbiasa dengan
kehadiran Angga.
“Besok kan hari ulang
tahunku.” Lanjut Lala dengan nada kecewa.
“Maaf, tapi aku janji
akan cepat menyelesaikan urusanku dan segera kembali untukmu.” Tiba-tiba Angga
mencium keningnya.
***
Pesta
ulang tahu Lala diadakan secra sederhana, hanya teman dekat dan keluarga yang
diundang. Meski acara terlihat meriah, tapi hati Lala terasa kosong.
Berkali-kali Lala melihat kea rah pintu. Tapi Angga, orang yang ia
tunggu-tunggu belum juga datang. Lala menggerutu dalam hati, Angga pembohong!
Keluhnya. Di sisi lain kak Ara sibuk menerima telepon, ia terlihat gelisah.
Lala
heran sudah seminggu Angga tidak ada kabar dia tidak lagi muncul ke rumahnya.
Lala khawatir, jangan-jangan terjadi sesuatu pada Angga.
“Lala,
cepat siap-siap! Kita akan ke rumah sakit ,” teriak mamah dari dalam rumah.
Kata
kak Ara ada seseorang yang mau mendonorkan jantungnya pada Lala, Lala
sebenarnya bahagia sebab dia bisa bertahan hidup, tapi kenapa di saat yang
membahagiakan ini Angga gak ada disampingnya.
“Kak,
Angga di mana sih?” Tanya Lala pada kak Ara. Kak Ara hanya diam.
“Kalo kak Ara nggak mau ngasih tau . Lala gak mau nerima donor jantung itu.”
Kak
Ara terkejut mendengarnya.
“Lala,
Angga gak bisa datang nemuin kamu dulu. Dia juga sudah tau kalau kamu mau
operasi jantung, dia selalu ngedoain kamu. Kata Angga, kalau kamu sudah sembuh
nanti, dia akan ngajak kamu jalan-jalan ke tempat yang pernah ia ceritakan sama
kamu.” Mendengar penjelasan kak Ara, Lala sedikit tenang. Sekarang dia punya semangat
untuk berjuang di meja operasi.
***
Sebulan
setelah opeerasi, Lala sudah terlihat sehat. Lala benar-benar bahagia, sebab
dia sudah sembuh dan dia ingin cepat bertemu dengan Angga. Namun,
berminggu-minggu sudah Angga tak kunjung datang. Lala kesal dan terus menuduh
Angga pembohong, tapi ketika dia teringat tentang Angga dadanya selalu perih
dan jantungnya berdegup kencang.
“Lala,”
Kak Ara muncul dari balik pintu.
“Ada
apa kak?” Lala menghapus air matanya.
“Sudah
waktunya kamu tahu sesuatu, kamu selalu tanya jantung siapa yang ada dalam
tubuhmu sekarang, iya kan?”
Lala
mengangguk.
“Itu
milik Angga,”
Deg…
rasanya bumi dan langit menghimpit dirinya, dia gak percaya kalau jantung itu
milik Angga. Dia gak percaya kalau Angga sudah nggak berada di sisinya
selamanya. Lalu untuk apa Lala menerima semua ini jika orang yang dia sayangi
telah meninggalkan dirinya, selamanya. Lala terus memegangi dadanya, rasa sakit
itu semakin tak tertahan, tangisnya pun pecah.
“Malam
itu Angga ingin segera kembali, dia ingin menghadiri pesta ulang tahun kamu,
tapi naas karna dia melaju terlalu cepat, dia nggak tahu kalau di depannya ada
oli yang tumpah. Motornya terjatuh, Angga terlempar ke jurang.”
Lala
nggak kuat mendengar cerita kak Ara.
“Saat
aku datang ke rumah sakit, kondisinya parah, dia sempat ngomong ke kakak,
seandainya dia mati maka jantungnya akan dia berikan kepadamu, Lala!” Kak Ara
menyerahkan boneka yang sedikit berlumur darah kepada Lala.
“Hadiah yang ingin Angga berikan
padamu.” Kemudian Kak Ara meninggalkan Lala sendiri. Lala mengambil semua
boneka yang diberikan Angga padanya, semua berjumlah 18.
Lala memeluk semua boneka itu dengan erat hingga
boneka itu mengeluarkan suara “I love u” Lala terkejut dengan suara-suara itu.
Ia tekan satu persatu dada boneka itu dan suara yang muncul sama. Namun, saat
dia menekan boneka yang terakhir, yaitu boneka hadiah ulang tahun, Lala tidak
mendengar apa-apa. Lala heran, tapi dia menemukan ada retsleting di punggung
boneka itu, saat dia buka ada sebuah surat
To Lala
La,
selama ini aku memendam rasa suka padamu tapi aku malu mengutarakannya, melalui
boneka-boneka ini aku coba mengutarakan isi hatiku. La, aku ingin jadi orang
yang bisa menemanimu memandang bunga, kupu-kupu dan bercanda denganmu hingga
detik terakhir. La, apa kamu mau jadi pacarku?
Angga
Membaca
tulisan Angga, Lala berlinangan airmata, kenapa dia baru tahu sekarang? Andai
ia tahu lebih cepat, dia akan mencegah Angga untuk pergi. Lala memegang
dadanya, tiba-tiba dia tersenyum, dia baru sadar, bahwa Angga selalu ada di
hatinya, selamanya… “Angga, I love u” ucap Lala lirih.