Kamis, 29 Desember 2011

Seandainya, Aku Tahu


             Lala seorang gadis yang manis dan periang, dia sangat baik dan ramah kepada semua orang. Namun dibalik keriangannya itu, hidupnya penuh dengan beban. Sejak kecil dia menderita penyakit jantung. Setiap hari dia harus meminum obat, dia tidak pernah mengeluh dia tidak ingin menunjukkan penderitaan yang dialaminya selama bertahun-tahun kepada orang lain. Dokter memvonis Lala hanya bisa bertahan sampai umurnya 18 tahun, kecuali jika dia mendapatkan donor jantung yang sesuai, maka nyawanya bisa diselamatkan. Namun sayang, sekarang umur Lala sudah 17 tahun, tapi belum ada donor jantung yang sesuai. Akhir-akhir ini Lala sering pingsan di kelas, akhirnya keluarga Lala memutuskan untuk mengeluarkan Lala dari sekolah agar Lala bisa beristirahat di rumah.
            Sudah hampir 2 bulan Lala di rumah, setiap hari dia hanya membaca buku di taman. Sekedar menghilangkan kebosanan jika dia hanya terus istirahat di kamar dan untuk menghirup udara segar.
            “La…kalau kamu bosan, kamu bisa mengundang temanmu untuk dating kerumah!” Ujar mama Lala.
            “Lala nggak bosan ko mah, Lala Cuma kesepian. Mama, Papah dan kak Ara, semuanya sibuk di luar rumah.” Keluh Lala
            “Maafin mamah ya, La.” Sambil memeluk putrinya tersebut. Lala sadar kalau mamah sibuk mencarikan donor buat dirinya. Padahal jika keluarganya itu mau menemaninya sehari saja,itu sudah menjadi obat bagi dirinya.
            Akhir-akhir ini ada cowo yang slalu menyapanya setiap pagi. Lala gak kenal siapa cowo itu. Jika dia tetangga, dia pasti kenal. Karna hampir orang satu kompleks dia hapal.
            “Pagi ! Wah… buku yang dibaca sudah ganti lagi ya?” cowok itu menyandarkan dirinya ke pagar rumah. Lala hanya trsenyum.
            “Kamu suka baca komik ya?”
            Lala hanya mengangguk.
            “kamu kok diem aja? Aku kan udah cape-cape nanya.”
            “Habis akku kan gak kenal sama kamu.” Balas Lala.
            “Wah…!” Cowok itu terlihat senang. “ Ternyata suara kamu bagus banget, pasti kamu cocok deh kalau jadi koki,”
            Mendengar perkataan cowok itu Lala tersenyum.
“Lala, kamu ngomong sama siapa?” kak Ara muncul dari dalam rumah, dia terkejut melihat seorang cowok di luar pagar rumahnya.
            “Angga…!” Teriak kak Ara.
Cowok itu langsung melambaikan tangan dan tersenyum.
Ternyata cowok itu bernama Angga, dia sahabat kuliah kak Ara. Dia sengaja nyari tempat kost di dekat rumah Lala, supaya bisa ngejutin kak Ara. Lala terkejut karna Angga tahu tentang penyakitnya.
“Sorry ya, selama ini aku buat kamu takut.” Ungkap Angga. “Saat pertama liat kamu, aku belum tahu kalau kamu adiknya Ara, sebab kamu tampak lebih dewasa. Yang saat itu tak pernah aku lihat senyumnya.” Lanjut Angga.
Lala hanya terdiam, dia tahu apa yang dikatakan Angga itu benar.
Sejak saat itu hampir setiap hari Angga datang kerumah. Rumah Lala kini penuh dengan gelak tawa, sebab Angga pandai sekali melucu. Bahkan Lala tertawa terbahak-bahak mendengar kelucuan Angga.
Suatu pagi ketika Angga datang, semua orang tidak ada dirumah, yang ada hanya Lala, dia duduk di bangku taman seperti biasa.
“Boleh aku duduk?” Tanya Angga.
“Silahkan! Kapan kamu datang?” Tanya Lala.
“Baru saja. Rumah sepi?”
“Seperti biasa semua orang sibuk mencoba mencari orang yang mau mendonorkan jantung untukku.” Ungkap Lala. “Padahal jantung orang lain pun sangat berharga bagi orang terebut.” Lanjut Lala.
“Kamu punya impian?” Tanya Angga tiba-tiba.
Lala mengernyitkan dahi.
“Kurasa punya, jika tidak, kamu tidak mungkin bertahan sampai saat ini.” Lala menatap wajah Angga, ada sesuatu yang berdesir di hatinya saat dia memandang cowok itu.
“Impian? Apakah itu bisa disebut impian?” ucap Lala lirih.
“Semua keinginan itu bisa disebut impian. Ujar Angga.
Lala menghela nafas, seperti ada beban berat di pundaknya.
 
“Duduk berdua di bangku ini, memandang langit, bunga, kkupu-kupu dan bercanda, hingga detik terakhir bersama orang yang ku cintai. Apakah bisa disebut impian?” lala menoleh kea rah Angga. Angga mengangguk dan tersenyum.
“Lalu apa impianmu?” lala balik bertanya.
“Sejak dulu aku ingin sekali pergi ke sebuah tempat, dimana aku bisa jalan-jalan di pematang sawah, memancing di sungai yang airnya jernih, pokoknya pergi ke suatu tempat yang tenang gitu!” Angga menjelaskan dengan logatnya yang kocak. Membuat Lala tersenyum simpul. Tiba-tiba pandangan mereka beradu, di hati Lala maupun Angga berdesir sesuatu yang aneh. Lala menunduk, dia nggak sanggup terus menatap mata Angga. Dia merasa tidak pantas untuk merasakan hal itu kepada Angga, yaitu rasa cinta.
Sejak saaat itu, setiap hari Angga selalu datang untuk menemani Lala. Dia datang selalu dengan membawa hadiah sebuah boneka kecil, setiap hari bonekanya selalu berbeda. Lala terlihat senang dengan hadiah tersebut, kini sudah ada 17 boneka yang ia punya.
“Lala, mungkin aku besok tidak bisa menemanimu.” Ujar Angga.
“Kenapa?” hati Lala sedikit kecewa mendengar hal itu. Karena Lala sudah mulai terbiasa dengan kehadiran Angga.
“Besok kan hari ulang tahunku.” Lanjut Lala dengan nada kecewa.
“Maaf, tapi aku janji akan cepat menyelesaikan urusanku dan segera kembali untukmu.” Tiba-tiba Angga mencium keningnya.
***
            Pesta ulang tahu Lala diadakan secra sederhana, hanya teman dekat dan keluarga yang diundang. Meski acara terlihat meriah, tapi hati Lala terasa kosong. Berkali-kali Lala melihat kea rah pintu. Tapi Angga, orang yang ia tunggu-tunggu belum juga datang. Lala menggerutu dalam hati, Angga pembohong! Keluhnya. Di sisi lain kak Ara sibuk menerima telepon, ia terlihat gelisah.
            Lala heran sudah seminggu Angga tidak ada kabar dia tidak lagi muncul ke rumahnya. Lala khawatir, jangan-jangan terjadi sesuatu pada Angga.
            “Lala, cepat siap-siap! Kita akan ke rumah sakit ,” teriak mamah dari dalam rumah.
            Kata kak Ara ada seseorang yang mau mendonorkan jantungnya pada Lala, Lala sebenarnya bahagia sebab dia bisa bertahan hidup, tapi kenapa di saat yang membahagiakan ini Angga gak ada disampingnya.
            “Kak, Angga di mana sih?” Tanya Lala pada kak Ara. Kak Ara hanya diam.
 
“Kalo kak Ara nggak mau ngasih tau . Lala gak mau nerima donor jantung itu.”
            Kak Ara terkejut mendengarnya.
            “Lala, Angga gak bisa datang nemuin kamu dulu. Dia juga sudah tau kalau kamu mau operasi jantung, dia selalu ngedoain kamu. Kata Angga, kalau kamu sudah sembuh nanti, dia akan ngajak kamu jalan-jalan ke tempat yang pernah ia ceritakan sama kamu.” Mendengar penjelasan kak Ara, Lala sedikit tenang. Sekarang dia punya semangat untuk berjuang di meja operasi.
***
            Sebulan setelah opeerasi, Lala sudah terlihat sehat. Lala benar-benar bahagia, sebab dia sudah sembuh dan dia ingin cepat bertemu dengan Angga. Namun, berminggu-minggu sudah Angga tak kunjung datang. Lala kesal dan terus menuduh Angga pembohong, tapi ketika dia teringat tentang Angga dadanya selalu perih dan jantungnya berdegup kencang.
            “Lala,” Kak Ara muncul dari balik pintu.
            “Ada apa kak?” Lala menghapus air matanya.
            “Sudah waktunya kamu tahu sesuatu, kamu selalu tanya jantung siapa yang ada dalam tubuhmu sekarang, iya kan?”
            Lala mengangguk.
            “Itu milik Angga,”
            Deg… rasanya bumi dan langit menghimpit dirinya, dia gak percaya kalau jantung itu milik Angga. Dia gak percaya kalau Angga sudah nggak berada di sisinya selamanya. Lalu untuk apa Lala menerima semua ini jika orang yang dia sayangi telah meninggalkan dirinya, selamanya. Lala terus memegangi dadanya, rasa sakit itu semakin tak tertahan, tangisnya pun pecah.
            “Malam itu Angga ingin segera kembali, dia ingin menghadiri pesta ulang tahun kamu, tapi naas karna dia melaju terlalu cepat, dia nggak tahu kalau di depannya ada oli yang tumpah. Motornya terjatuh, Angga terlempar ke jurang.”
            Lala nggak kuat mendengar cerita kak Ara.
            “Saat aku datang ke rumah sakit, kondisinya parah, dia sempat ngomong ke kakak, seandainya dia mati maka jantungnya akan dia berikan kepadamu, Lala!” Kak Ara menyerahkan boneka yang sedikit berlumur darah kepada Lala.
            “Hadiah yang ingin Angga berikan padamu.” Kemudian Kak Ara meninggalkan Lala sendiri. Lala mengambil semua boneka yang diberikan Angga padanya, semua berjumlah 18. 
 
Lala memeluk semua boneka itu dengan erat hingga boneka itu mengeluarkan suara “I love u” Lala terkejut dengan suara-suara itu. Ia tekan satu persatu dada boneka itu dan suara yang muncul sama. Namun, saat dia menekan boneka yang terakhir, yaitu boneka hadiah ulang tahun, Lala tidak mendengar apa-apa. Lala heran, tapi dia menemukan ada retsleting di punggung boneka itu, saat dia buka ada sebuah surat
To Lala
            La, selama ini aku memendam rasa suka padamu tapi aku malu mengutarakannya, melalui boneka-boneka ini aku coba mengutarakan isi hatiku. La, aku ingin jadi orang yang bisa menemanimu memandang bunga, kupu-kupu dan bercanda denganmu hingga detik terakhir. La, apa kamu mau jadi pacarku?
Angga
            Membaca tulisan Angga, Lala berlinangan airmata, kenapa dia baru tahu sekarang? Andai ia tahu lebih cepat, dia akan mencegah Angga untuk pergi. Lala memegang dadanya, tiba-tiba dia tersenyum, dia baru sadar, bahwa Angga selalu ada di hatinya, selamanya… “Angga, I love u” ucap Lala lirih.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar