Jumat, 23 Desember 2011

Papah, Selamat Ulang Tahun !


Aku melirik jam weker, jarum jam menunjukkan pukul enam pagi. Aku meregangkan otot-ototku yang masih terasa kaku. Aku gerakkan punggungku ke kiri dan kanan untuk membebaskanku bergerak. Hari ini, aku harus sesegera mungkin berangkat ke kampus,karena hari ini ada ujian akhir. Jarak kampus dari rumah kontrakanku tidak terlalu jauh. Namun jika telat 5 menit saja sudah bisa dipastikan aku akan terjebak macet di jalan.
            Dengan malas aku melangkahkan kakiku menuju ruang makan. Terdengar suara seorang wanita sedang bernyanyi tembang jawa di dapur. Mbok Min. Pembantuku  yang usianya hampir 60 tahun namun tidak tampak dari tubuhnya yang masih segar bugar, ia sedang membuat sarapan telur dadar untukku.
  “Lagi masak apa ?” tanyaku sambil duduk di kursi .
            “Ini, non si mbok  bikin telur dadar buat non Nayla sarapan.” Jawabnya sambil terus menggerakkan tangannya yang lincah.
            “Oya, semalam tuan  telepon, sepertinya tuan ingin bicara dengan non.”
            “Kapan papah nelpon? Kok aku gak tahu?” balasku.
            “Semalam, setelah non pulang kuliah. Waktu si mbok bilang kalau non  lagi tidur , tuan langsung  bilang gak jadi,katanya gak usah sampai membangunkan non Nayla,” jawab Mbok Min
            “Ya, biar aku telepon nanti, mungkin Papah Cuma ingin tahu kabarku di Bandung,”
*** 
            Namaku Nayla, aku sedang menyelesaikan studi S-1 ku di salah satu Universitas Negeri favorit di Bandung. Karena aku tidak punya saudara di kota ini dan harus terpisah jauh dengan mamah papahku yang ada di Surabaya, alhasil aku harus mengontrak sebuah rumah di Bandung. Bisa dibilang hidupku cukup beruntung. Kedua orangtuaku pengusaha bisnis property dan restoran di Surabaya, dan aku anak tunggal. Aku tidak punya adik atau kakak, dan jadinya aku sangat dimanja sejak kecil oleh orangtuaku, terutama papah yang sangat sayang padaku. Bahkan ketika aku memutuskan untuk kuliah di bandung, mereka kaget dan tidak percaya kalau aku sanggup terpisah jauh dari mereka. Tapi aku berusaha meyakinkan mereka kalau di usiaku yang beranjak dewasa sudah seharusnya aku belajar untuk hidup mandiri. Akhirnya mereka percaya akan kesungguhanku dan mengizinkan aku kuliah di Bandung. Pernah suatu hari papah menelponku
            “Nay, gimana kabar kamu?” Tanya papah mengawali pembicaraan kami di telepon.
            “Nay baik-baik aja kok pah, kabar papah dan mamah gimana?” tanyaku
            “Baik saying, kami sudah kangen sekali sama kamu,”
            Aku tersenyum, “Nay juga kangen banget pah,”
            “Kamu kapan pulang ke Surabaya?” Tanya papah
            “Belum tau pah, Nay masih ada ujian. Tenang aja Pah, Nay juga udah kangen rumah.” Jawabku.
            “Nay, kamu tahu jam Rollex kesayangan papah?” Tanya Papah memulai topic baru.
            “Iya tahu, yang sering papah pakai kan?” Jawabku.
            “Jam itu hilang kemarin, padahal jam itu kenang-kenangan dari sahabat papah.”
            “Hah ! Kok bisa hilang Pah?” Tanyaku kaget.
            “Mungkin jatuh waktu di kantor. Tenang aja Nay, nanti Papah bisa beli lagi.”
            “Pah, gimana kalau Nayla aja yang beliin jam itu buat Papah, kan sebentar lagi Papah ulang tahun.” Pintaku pada Papah.
            “Tapi jam itu mahal, memangnya kamu mau menghabiskan uang bulanan kamu untuk beliin Papah jam tangan itu?” Tanyanya.
            “Tenang aja Pah, sekarang Nay kerja di salah satu perusahaan, ya gajinya lumayan Pah,” Jawabku.
            “Papah gak nyangka kamu sekarang sudah tambah dewasa dan mandiri, papah bangga sama kamu, Nay.”
            Aku tersenyum, senang rasanya menjadi kebanggaan Papah.
***
            Telepon genggamku berdering keras ketika aku tengah sibuk menyelesaikan pekerjaanku. Aku yang sedang meyusun laporan keuangan perusahaan – yang harus diselesaikan dengan segera – menghentikan aktivitasku sejenak. Aku merogoh telepon genggam di tasku. Ku lihat di layar, tertulis nama Papah sedang menelponku.
            “Halo, Pah!” jawabku segera.
            “Halo, Nay! Sedang apa?” tanyanya.
            “Ini nih, aku lagi sibuk nyusun laporan keuangan, mesti diselesaikan hari ini, Pah! Ada apa, Pah? ” tanyaku.
“Tidak apa-apa, Papah hanya sekedar ingin ngobrol saja,”
“Oh, jangan sekarang ya, Pah! Nanti Nayla telepon lagi! Pasti Nayla telepon,” janjiku.
“Baiklah,” jawab Papahku.
***
Jam sebelas malam, aku baru tiba di kontrakan. Dengan pikiran yang lelah, aku memasuki rumah. Aku baru pulang dari kantor. Ketika jam kerja sudah habis, aku masih harus menghadiri meeting, menemani atasanku. Mbok Min menyambutku, ia langsung meraih tasku dan membawanya ke kamar. Aku menghempaskan tubuhku di sofa ruang tamu, melepaskan lelah yang tengah menghampiriku.  Aku meraih telepon genggamku yang sengaja aku nonaktifkan saat meeting. Tiba-tiba saja aku teringat kalau hari ini adalah hari ulang tahun Papah. Aku segera mengaktifkan ponselku, pantas saja tadi siang Papah menelponku.
Terlihat beberapa pesan masuk di layar. Beberapa pesan masuk itu teman-teman Nayla dan Papah! Tanpa pikir panjang, Nayla langsung membuka satu persatu pesan dari Papahnya tersebut.
Sms pertama, “Nak, kapan pulang? Papah ingin bertemu, tahun ini kamu pulang kan?.”
Sms kedua, “Nayla, Papah masih menunggu telepon dari kamu,”
Sms ketiga,”Nayla, kenapa HP mu tidak bisa dihibungi? Kamu marah sama Papah?”
Sms ketiga, “Nay, papah kamu masuk rumah sakit lagi. Jantungnya kembali bermasalah, mamah butuh bantuanmu, pulanglah… papahmu ingin bertemu.”
Sms keempat, “Nayla, innalillah… papahmu meninggal, pulanglah….”
Betapa terkejutnya Nayla membaca pesan terakhir yang masuk sekitar empat jam yang lalu itu. Ia benar-benar kaget dan tak percaya ketika membacanya. Ia meremas rambutnya. Air matanya tak kuasa ia tahan lagi. Ia menangis menerima kabar kematian Papahnya itu.
“Ada apa non?” Tanya si Mbok panic.
“Aku menyesal, Mbok! Harusnya hari ini aku pulang. Hari ini ulang tahun Papah.” Jawabku sambil terus menangis
“Ada apa non?” Mbok bertanya semakin tidak mengerti.
“Papah meninggal,” jawab Nayla pendek.
***
Aku berjalan dengan putus asa menyusuri pemakaman umum tempat Papahku dimakamkan. Dengan pakaian serba hitam, aku menuju makam Papah. Papahku meninggal karena serangan jantungnya. Harusnya, aku berada di sampingnya saat-saat terakhir ia membuka matanya tapi, aku justru tidak bisa melihatnya untuk yang terakhir kalinya. Ya Allah… kenapa harus begini?
Aku tak henti-hentinya menangis di depan makam Papahku. Lama. Mamahku juga begitu, ia juga terlihat sangat berduka dengan kepergian Papahku. Suaminya. Sesekali aku menciumi batu nisan Papahku. Aku ingin sekali mencium pipinya. Tapi semua telah terlambat. Hal itu hanya memuat penyesalan di dadaku semakin berat.
“Harusnya aku ada di sampingnya saat ia menghembuskan nafas terakhir kalinya,” ucapku dengan suara bergetar.
“Nay, sudahlah, kita ikhlaskan kepergiannya,” sahut mamahku.
“Papah, maafkan Nayla, Nayla sering mengabaikan Papah dengan segala kesibukan Nayla. Jam tangan ini sudah aku siapkan sebagai bukti kalau aku sudah mandiri, aku sudah bisa menghasilkan uang sendiri. Harusnya Papah bisa menerimanya saat ulang tahun Papah,” kataku dalam hati, merenungi apa yang telah aku lakukan selama ini. Menyesal. Aku benar-benar menyesal kini.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar